Steven Jaconias Davidsz

Kamis, 24 Maret 2011

PHIL JACKSON THE ZEN MASTER SAGA


Ia memenangkan 72 pertandingan dalam satu musim-sebuah rekor kemenangan terbaik di regular season sepanjang masa. Ia juga adalah satu-satunya pemilik 10 cincin juara NBA-sebuah pelatih dengan rekor cincin juara terbanyak, mengalahkan Red Auerbach. Satu-satunya sosok yang mampu meredam kebengalan dari Dennis Rodman.


Phil Jackson, lahir dengan nama lengkap Philip Douglas Jackson pada tanggal 17 September 1945, dari pasangan Charles dan Elizabeth Jackson, di daerah Deer Lodge, Mont. Berasal dari keluarga yang religius [kedua orang tua Jackson adalah pelayan Tuhan di Assemblies of God] memberi pengaruh kepada kehidupan Jackson dan saudara-saudaranya pada waktu muda. [Sebagai gambaran] Untuk menonton bioskop saja, Phil kecil harus menunggu sampai dengan ia masuk ke bangku SMU. Jika anak-anak muda seusianya sudah memiliki pengalaman prom night pada masa SMU, maka Jackson baru mengalaminya pada masa ia kuliah.

Phil Jackson menghabiskan masa SMU-nya dengan bermain basket di Williston, North Dakota [ia berhasil membawa timnya menjadi juara negara bagian dua kali]. Yang menarik adalah selain bermain basket, saat itu Jackson juga aktif bermain di beberapa cabang olah raga lain seperti: football, menjadi pitcher [pelempar bola] dalam tim baseball sekolahnya, bahkan ikut serta dalam cabang lempar cakram [pada cabang atletik]. Konon, Phil [dan juga saudara-saudara kandungnya] melakukan hal ini [aktif dalam cabang olahraga], karena hanya melalui olahraga mereka bisa menjadi seperti anak-anak normal lainnya.

Kemahiran Phil Jackson bermain baseball sempat mengundang beberapa pencari bakat untuk melihat kemampuannya bermain. Sampai akhirnya, Bill Fitch datang dan menawarinya kesempatan untuk bermain di University of North Dakota [UND]. Dan setelah Fitch melakukan pendekatan yang intensif terhadap Jackson [termasuk undangan makan malam dan beberapa gelas wine], Phil akhirnya berlabuh di UND dan bermain bersama Fighting Sioux [tim basket UND].

AWAL KARIR

PHIL SEBAGAI SEORANG PEMAIN

Pada NBA Draft tahun 1967, New York Knicks memilih Phil Jackson pada putaran kedua. Di tahun rookienya, Phil terpilih dalam tim NBA All Rookie, dengan mencetak rata-rata 6.2 point per game dan 4.5 rebounds per game. Jackson menyadari bahwa ia kurang begitu bersinar di offense. Atas dasar itu, ia merubah gaya permainannya menjadi seorang pemain dengan mental defense [untuk menutupi kekurangannya di offense].

Phil Jackson terpaksa absen [karena cedera] pada saat Knicks menjadi juara NBA musim 1969-1970. Suatu masalah yang ternyata menjadi berkat untuk karir kepelatihannya kelak. Semasa cedera, pelatih Knicks saat itu–Red Holzman menjadikan Jackson sebagai assisten pelatih. Holzman kerap mengirim Jackson untuk memantau pertandingan lawan [scouting], karena ia [Holzman] sangat percaya terhadap kemampuan Jackson. Jackson kembali bermain pada musim berikutnya. Ia menjadi pemain kunci dari bangku cadangan pada saat Knicks menjuarai NBA tahun 1973. Musim 1973-1974 menjadi musim terbaik yang dijalani oleh Jackson. Ia meraih rata-rata point tertinggi sepanjang karirnya [11.1 points per game].

Baru pada musim 1974-1975 Jackson terpilih menjadi starter [pemain inti] Knicks. Dan menjalani musim terbaiknya secara statistik dengan mencatat rata-rata 10.8 points per game dan 7.7 rebounds per game. Bahkan ia juga memimpin liga untuk kategori yang cukup tidak mengenakan yakni foul terbanyak dalam semusim, 330.

Setelah bermain selama 11 musim bersama Knicks, Jackson akhirnya pindah ke New Jersey Nets sebagai pemain merangkap assisten pelatih. Sebelum pada akhirnya ia memutuskan gantung sepatu dari NBA pada tahun 1980. Sepanjang karirnya, Jackson membukukan rata-rata 6.7 points per game dan 4.3 rebounds per game selama 807 pertandingan.

MASA-MASA AWAL KEPELATIHAN

Pensiun dari Nets, Jackson langsung menjadi assisten pelatih di tim tersebut pada musim 1980-1981. Selepas musim 1980-1981, Jackson menjadi komentator di siarang langsung pertandingan NBA di New Jersey. Jackson kembali melatih sebuah tim, saat ia memutuskan untuk menangani tim Albany Patroons dari CBA. Pada saat jeda musim, ia pergi ke Puerto Rico untuk melatih tim local, Quebradillas Pirates dan Isabela Fighting Cocks. Pada musim 1983-1984 ia membawa Albany Patroons meraih gelar juara CBA, yang menjadikannya pelatih pertama yang mampu memenangi gelar juara CBA maupun NBA. Prestasi ini juga memberinya sebuah gelar Coach of the Year.

ROAD TO GLORY

CHICAGO BULLS [1987-1998]

THE FIRST THREE-PEAT

Pada musim 1987, Jackson di kontrak oleh Chicago Bulls untuk menjadi asissten pelatih Bulls saat itu, Doug Collins. Pada sebuah pertandingan di tahun 1988, Collins dikeluarkan dari pertandingan pada saat Bulls tertinggal 14 angka. Hal ini membuat Jackson mengambil alih posisi Collins dalam sisa waktu pertandingan itu dan memberikan kesempatan kepada para pemain Bulls untuk bermain dengan gaya mereka sendiri, alhasil Bulls memenangi pertandingan tersebut, dan Jackson memenangi kepercayaan dan rasa hormat baik dari manajemen tim maupun para pemain. Pada awal musim berikutnya, Phil Jackson ditunjuk menjadi pelatih menggantikan Collins dan diberikan sebuah warisan dalam bentuk dua orang bintang masa depan NBA, Michael Jordan dan Scottie Pippen. Kalah terus menerus dari Pistons, dan kebergantungan Bulls pada Jordan, membuat Jackson harus memikirkan sebuah strategi baru. Dan muncullah sebuah strategi yang kelak menjadi trade-marknya, triangle offense [terima kasih kepada assisten coach Tex Winter, yang memiliki ide dasarnya]. Bulls mengakhiri musim itu di posisi ke dua divisi central dengan rekor menang kalah 57-25, untuk selanjutnya maju ke final wilayah timur. Di final wilayah timur, kembali Bulls bertemu dengan musuh besarnya, Detroit Pistons [yang dua kali mengalahkan mereka berturut-turut]. Meskipun Bulls memberikan perlawanan yang cukup ketat, namun mereka harus tersingkir dalam tujuh pertandingan [kalah 3-4 dari Pistons].

Pada musim 1990-1991, Jackson membuktikan bahwa kali ini Bulls lebih baik. Mengakhiri musim dengan catatan menang-kalah 61-21, Bulls kembali bertemu Pistons di final wilayah timur. Kali ini Bulls memenangi pertandingan best of seven games [tim pertama yang memenangi empat pertandingan memenangkan seri] dengan kemenangan 4-0, yang di tandai –tentunya akan selalu di ingat, pemain Pistons meninggalkan lapangan pertandingan pada saat waktu tersisa sekitar 7 detik di game ke empat. Bulls melaju ke final NBA untuk bertemu LA Lakers dan bintangnya saat itu Magic Johson. Bulls memenangi seri itu dengan 4-1 sekaligus memenangi gelar juara NBA pertama franchise itu.

Musim berikutnya Bulls mencatat rekor menang kalah 67-15 [salah satu yang terbaik] dan kembali melaju ke final NBA, setelah sebelumnya mengalahkan Knicks-dalam tujuh pertandingan yang ketat dan Cavaliers di final wilayah timur. Bulls bertemu Blazers yang dipimpin oleh pemain bintang mereka Clyde ‘the glide’ Drexler. Bulls kembali memenangi NBA final kali ini, dengan mengalahkan Blazers 4-2, sekaligus meraih gelar back to back atau juara dua kali berturut-turut.

Musim 1992-1993 Bulls mengalami penurunan dalam hal rekor menang kalah, yaitu 57-25. Namun hal itu menjadi berbeda memasuki babak playoffs. Bulls kembali melaju ke final NBA untuk menghadapi Phoenix Suns dan peraih MVP Charles Barkley. Salah satu moment terbaik seri itu adalah pada game ke enam, pada saat John Paxson melakukan tembakan tiga angka. Tiga angka yang memenangkan Bulls sekaligus memberik Bulls gelar juara tiga kali berturut-turut [three-peat]. Suatu prestasi fenomenal setelah sebelumnya hanya Celtics yang mampu melakukannya-menang delapan kali berturut-turut.

Paska kemenangan tersebut, Jordan memutuskan untuk pensiun untuk kali yang pertama. Tanpa Jordan, Bulls meraih rekor menang kalah 55-27 musim 1993-1994. Phil Jackson baru saja kehilangan pemain terbaiknya [bahkan mungkin di dunia] dan hanya kurang dua pertandingan dari musim sebelumnya? Ya, itu adalah suatu pencapaian prestasi tersendiri untuk Jackson. Dengan mengandalkan Scottie Pippen dan bintang pendatang baru asal Kroatia, Tony Kukoc, Bulls nyaris kembali melaku ke final NBA sebelum dikalahkan Knicks dalam tujuh pertandingan.

THE SECOND THREE-PEAT

Memasuki musim 1994-1995, dunia dikejutkan dengan kembalinya sang mega bintang, Michael Jordan ke Chicago Bulls. Meskipun demikian, absen selama 18 bulan membuat Jordan tidak mampu member banyak musim itu. Bulls kalah dari Orlando Magic –yang diperkuat mantan pemain Bulls, Horace Grant, dalam enam pertandingan.

Memasuki musim 1995-1996, dengan Jordan kembali bermain penuh ditambah senjata baru nan mematikan dalam diri Dennis Rodman. Bulls melaju untuk meraih rekor kemenangan terbaik sepanjang sejarah NBA, 72-10, melampaui rekor LA Lakers 69-13 pada musim 1971-1972. Bulls juga meraih rekor kandang yang mengesankan yaitu 39-2, hanya kalah satu pertandingan dari rekor kandang terbaik yang dipegang oleh Celtics. Bisa dipastikan rekor itu memberikan satu-satunya gelar Coach of the Year kepada Phil Jackson. Bulls melaju ke final NBA pada musim itu dan bertemu Seattle Supersonics. Mereka mengalahkan Sonics dalam enam pertandingan untuk meraih gelar ke empat untuk Chicago Bulls.

Musim 1996-1997, Bulls nyaris mengakhir musim dengan torehan back to back kemenangan diatas 70 pertandingan satu musim. Kekalahan dalam dua pertandingan terakhir membuat Bulls hanya menyamai rekor Lakers yaitu 69-13. Kembali melaju ke final NBA, kali ini mereka di tunggu oleh duet Karl Malone-John Stockton dan Utah Jazz. Bulls mengalahkan Jazz kembali dengan enam pertandingan, untuk gelar mereka ke lima dalam tujuh tahun terakhir.

Memasuki musim 1997-1998, Jackson mengalami masalah dalam hubungannya dengan pemilik Bulls, Jerry Krausse. Suatu hal yang konon dipicu oleh rasa iri hati Krausse terhadap perhatian public terhadap Jackson yang dianggap orang yang bertanggung jawab terhadap gelar-gelar Bulls. Perselisihan ini dimulai pada musim panas 1997. Pada saat Krausse akan menikahkan anak tirinya. Semua staf kepelatihan Chicago Bulls di undang, bahkan Tim Floyd-saat itu melatih Iowa State dan disebut sebagai suksesor Jackson di Bulls- di undang, tetapi Jackson tidak, Bahkan istri Jackson [saat itu], June baru mengetahui saat istri dari assisten pelatih Bill Cartwright menanyakan apa yang hendak dipakai olehnya [ke pesta pernikahan itu]. Seakan tidak selesai sampai di situ, Krausse bahkan hanya menawarkan kontrak kepada Jackson untuk musim 1997-1998 saja. Krausse sempat berkata, ‘bahkan jika musim ini berakhir dengan 82-0, kau tetap pergi!’.

Meskipun demikian Bulls kembali melaju ke final NBA 1998 dan kembali bertemu dengan Jazz. Bulls mengalahkan Jazz dalam enam pertandingan untuk merengkuh gelar ke enam mereka sekaligus three-peat kedua. Pada Januari 1999, Jordan memutuskan untuk kembali gantung sepatu. Yang segera di ikuti oleh Phil Jackson, yang bersumpah tidak akan melatih lagi. Sepanjang karirnya di Bulls, Jackson memberikan enam gelar dalam sembilan musim.

ERA LA LAKERS [1999-2004]

THE THIRD THREE PEAT

Setelah Absen melatih selama satu musim, Jackson kembali turun gunung untuk melatih LA Lakers. Di Kontrak selama lima tahun senilai US$ 30 juta, ia membawa Shaquille O’neal, Kobe Bryant dan Lakers meraih rekor kemenangan 67-15 pada musim 1999-2000. Setelah 11 tahun menunggu, kehadiran Jackson di Lakers memberikan mereka jawaban atas dahaga gelar mereka. Lakers maju ke final NBA musim itu untuk berhadapan dengan Indiana Pacers. Lakers mengalahkan Pacers dalam enam pertandingan [4-2] sekaligus memberikan gelar juara Lakers pertama kalinya setelah terakhir memenangkan gelar juara NBA pada tahun 1988.

Memasuki musim 2000-2001, Lakers masih belum bisa dihentikan. Meskipun di reguler season mereka mengalami penurunan dengan rekor menang-kalah 56-26, Lakers tak terhentikan dibabak playoff, dengan melakukan sweep sepanjang playoff wilayah barat. Kalah di pertandingan pertama final NBA dari Sixers, Lakers bangkit di pertandingan berikutnya dan memenangkan seri dalam lima pertandingan [4-1]. Lakers mengakhir perjalanan playoff mereka tidak hanya dengan sebuah gelar juara, namun juga rekor terbaik sepanjang sejarah dengan 15-1.

Musim 2001-2002, sempat mendapatkan perlawanan keras dari Kings sampai pertandingan ke tujuh, Lakers melaju ke final untuk menghadapi New Jersey Nets. Tanpa kesulitan, Lakers menyapu bersih pertandingan final dengan kemenangan 4-0 sekaligus gelar juara ke tiga berturut-turut [Three-peat]. Dan untuk ketiga kalinya Jackson membawa timnya meraih three-peat.

Memasuki musim 2002-2003, usaha Lakers untuk melaju ke final NBA empat kali berturut-turut, kandas di tangan Spurs. Memasuki musim 2003-2004, muncullah masalah baru dalam hubungan Jackson, O’neal dan Bryant. Diawali oleh ketidak sukaan Bryant terhadap strategy triangle offense ala Jackson. SItuasi semakin memanas, sampai Jackson harus membayar Psikiater untuk sekedar berkonsultasi. Bahkan Jackson sampai menemui Mitch Kupchak, General Manager LA Lakers, dengan memberikan ultimatum kepadanya. Apakah Jackson atau Bryant yang pergi dari Lakers. Masalah ini di tuangkan oleh Jackson dalam bukunya yang berjudul ‘the Last Season’, yang merupakan rekapitulasi dari musim 2003-2004.

Dengan tambahan pemain sekaliber Karl Malone dan Gary Payton, Lakers menjadi favorit juara. Namun meskipun Lakers di isi oleh para Hall of Famers masa depan, Lakers harus mengalami kekalahan dari Pistons di Final NBA, dalam lima pertandingan [1-4]. Kekalahan tersebut selain mengakhiri era O’neal di Lakers, juga untuk pertama kalinya Jackson kalah dalam pertandingan final dari 10 kali penampilan di final. Pada bulan Juni 2004, Jackson resmi mengundurkan diri dari Lakers.

LAKERS [2005-sekarang]

Selepas Jackson mengundurkan diri, Rudy Tomjanovich menggantikannya untuk musim 2004-2005 [paling tidak selama tujuh bulan, sebelum di gantikan oleh Frank Hamblen selama sisa musim kompetisi]. Harapan besar yang ada dipundak Tomjanovich berakhir dengan Lakers mencatat kemenangan 34 kali musim itu [termasuk yang diraih selama dibawah asuhan Hamblen]. Selepas Tomjanovich mengundurkan diri setelah tujuh bulan, banyak rumor yang mengatakan bahwa Jackson akan kembali melatih Lakers.

Mungkin memang karena kepiawaiannya hingga pemain dengan kemampuan bermain one-on-one sekelas Jordan dan Bryant, mau bermain dengan pola triangle offense yang memberikan pemain lain untuk kesempatan yang sama [mencetak skor], kepiawaian yang memberi Jackson rasa hormat dari keduanya. Baik Jordan [pada waktu aktif di Bulls] dan Bryant [saat ini] tidak ingin di latih oleh pelatih lain, selain Jackson. Kepiawaian yang sama yang juga mampu membuat pemain senyentrik dan seliar Dennis Rodman merasa nyaman. Yup, ini adalah Dennis Rodman yang ingin bunuh diri sewaktu di Detroit, dan Dennis Rodman yang sama yang duduk di bench [kursi pemain cadangan] tanpa sepatu ketika bermain di Spurs. Bahkan bila kita tidak bisa menyebut Rodman berubah menjadi malaikat, paling tidak, Rodman cukup beradab, selama menjadi juara dibawah arahan Jackson.

Phil memiliki kemampuan untuk menyatukan para pemain. Menjadi pelatih yang hebat di planet NBA, bukan hanya sekedar memahami X’s dan O’s [strategi basket] saja. Mike Dunleavy, Mo Cheeks, dan bahkan banyak pelatih lain pasti mengetahui tentang strategi offense, atau bagaimana menghentikan pick and roll. Menjadi pelatih hebat adalah bagaimana mengatasi [mengatur] ego para pemain, mendapatkan rasa hormat dari mereka, membangun chemistry [kebersamaan] tim, melakukan penyesuaian baik didalam dan luar lapangan. Dan memberikan penekanan kepada hal yang paling tepat kepada bintang-bintang sekelas Jordan, Pippen, Shaq dan Kobe untuk mencapai level kompetisi seperti ini. Tidak ada orang yang mampu melakukannya lebih baik dari Jackson.

‘Beberapa pelatih berperan hanya sebagai pelatih, beberapa lainnya menjadi me-manage [mengatur tim]’ Jelas Kareem Abdul Jabar, yang membantu Jackson melatih Andrew Bynum. “fungsi Phil, lebih ke manager’. “Dia tidak berlebihan dalam melakukan sesuatu, itu menjadi bagian dari keseluruhan rencananya.’ Jelas Fisher [pemain Lakers]. ‘dia menggunakan siulannya, otoritasnya, dia menggunakannya seperlunya, Supaya kita tetap terbuka dengan strateginya’

FAKTA LAIN

1. Jackson dikenal dekat dengan Michael Jordan, bahkan kedekatan mereka disebut-sebut sebagai kedekatan yang paling baik dalam sejarah NBA. Suasana harmonis yang terbangun di antara mereka, rasa hormat yang mereka bagi, menjadi kunci dalam membangun dinasti Bulls waktu itu. Meskipun Jordan adalah pemain yang sangat dominan, tetapi Jackson juga dianggap sebagai salah satu elemen penting dalam pencapaian Bulls meraih gelar juaranya. Jackson kerap memuji Jordan sebagai pemain terhebat yang pernah dilatih olehnya.

2. Seiring dengan julukannya sebagai ‘Master Zen’ Jackson juga dikenal sebagai master dari mind games atau perang urat syaraf. Sebagai contoh menjelang playoff 2000, Jackson menaruh poster Edward Norton dalam film ‘American History X’ yang menampilkan Norton dengan kepala botak dan tato swastika, sebagai gambaran lain dari pemain Sacramento Kings, yang juga botak dan bertato, Jason Williams. Atau menaruh gambar Hitler sebagai gambaran dari pelatih Kings saat itu Rick Adelman. Dia juga membuat Tyron Lue, pemain Lakers untuk berdandan ala Iverson, di final NBA 2001, lengkap dengan rambut cornrow [kebetulan gaya rambut Lue seperti itu] dan kaus lengan panjang serta gaya berpakaian hip hop. Meskipun dituding sebagai mind games, Jackson menjelaskan bahwa hal itu dilakukan untuk membiasakan para pemainnya dengan gaya main Iverson. Hasilnya: Lakers menang 4-1.

3. Julukan Master Zen didapat oleh Jackson karena ia memiliki pendekatan yang unik dalam melatih. Mengkombinasikan filosofi ala timur dan praktek spiritual ala barat. Dia dikenal dengan gayanya yang tenang di pinggir lapangan, dan membiarkan timnya berjuang keras saat mengalami tertinggal dibanding meminta time-out. Salah satu metode unik lainnya ialah, ia menggunakan siulan untuk memberikan instruksi kepada para pemainnya. Dengan menaruh jari kelingkingnya di kedua sudut bibir untuk menghasilkan suara yang cukup keras untuk mengatasi riuhnya stadion. Dia memberikan peringatan kepada para pemain melalui siulan tersebut. Maknanya macam-macam, bisa Trap sekarang, atau watch the double [double team, dijaga dua pemain], dan macam-macam. ‘Itu menjadi senjatanya’ jelas assisten pelatih Brian Shaw. Jika kita berteriak, ada kemungkinan mereka bisa mendengar atau justru tidak, Tetapi dengan bersiul, dia [Jackson] membuat pemainnya berpikir apa yang harus dilakukan.

0 komentar:

Poskan Komentar